CIANJUR, JAMNEWS.ID — Minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Cianjur pada tahun ajaran 2026/2027 terus meningkat. Hingga masa Pendataan Calon Murid Baru (PCMB), tercatat sekitar 2.600 calon peserta didik memilih sekolah tersebut sebagai tujuan pendidikan.
Sementara itu, daya tampung yang tersedia hanya sebanyak 504 siswa yang akan dibagi ke dalam 12 rombongan belajar (rombel), masing-masing berisi 42 siswa.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sebelumnya memperpanjang masa PCMB hingga 12 Juni 2026. Perpanjangan dilakukan menyusul adanya penyesuaian regulasi dan kendala teknis yang terjadi selama proses migrasi sistem penerimaan peserta didik.
Awalnya, pendataan dijadwalkan berlangsung pada 29 Mei hingga 8 Juni 2026. Namun, peralihan pengelolaan sistem dari Tikomdik ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat menyebabkan proses sinkronisasi data serta pemeringkatan calon peserta didik mengalami hambatan.
Humas SMAN 2 Cianjur, Ferry, mengatakan perubahan jadwal tersebut sempat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat karena informasi yang beredar menyebutkan pendataan berakhir pada 8 Juni, sementara hasil pemeringkatan mulai muncul pada 9 Juni.
“Verifikasi data masih berlangsung bersama tim Dinas Pendidikan hingga 12 Juni. Karena itu masyarakat tidak perlu khawatir selama proses pendataan dan verifikasi masih berjalan,” ujar Ferry, Kamis (11/6/2026).
Ia menegaskan bahwa PCMB bukan merupakan bagian dari proses seleksi penerimaan murid baru. Pendataan tersebut hanya berfungsi sebagai pemetaan minat calon peserta didik terhadap sekolah tujuan.
“PCMB hanya berfungsi sebagai pendataan awal dan basis data peminatan. Adapun proses seleksi resmi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) baru akan berlangsung pada 15 hingga 19 Juni 2026,” katanya.
Menurut Ferry, migrasi pengelolaan sistem juga berdampak pada proses pemeringkatan dan penyesuaian data sehingga memunculkan sejumlah kendala teknis di lapangan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, kuota penerimaan SMAN 2 Cianjur mengalami penyesuaian dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut seiring perubahan kebijakan dari Program Anak Putus Sekolah (PAPS) menjadi program sekolah penyangga.
Program sekolah penyangga sendiri ditujukan untuk menampung calon peserta didik yang tinggal di wilayah yang belum terjangkau layanan pendidikan atau berjarak cukup jauh dari sekolah negeri.
Ferry menjelaskan, dari sekitar 2.600 peminat yang tercatat, diperkirakan sekitar 1.500 peserta masuk dalam wilayah prioritas dan berhak mengikuti seleksi tahap pertama. Namun demikian, jumlah siswa yang diterima tetap dibatasi sesuai kuota yang tersedia.
“Dari sekitar 2.600 peminat, kemungkinan sekitar 1.500 peserta masuk wilayah prioritas untuk mengikuti seleksi tahap pertama. Sementara SMAN 2 Cianjur hanya menerima 504 siswa sesuai kuota yang tersedia,” jelasnya.
Proses seleksi akan dilakukan melalui sistem yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan mempertimbangkan berbagai indikator, seperti jalur pendaftaran, jarak domisili, nilai akademik, serta prestasi calon peserta didik.
Khusus jalur afirmasi, peserta harus terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 1, 2, atau 3, termasuk keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).
Ferry menambahkan, seleksi tahap kedua akan difokuskan pada jalur domisili. Apabila kuota SMAN 2 Cianjur telah terpenuhi pada tahap sebelumnya, sistem akan secara otomatis menutup pilihan sekolah tersebut sehingga tidak dapat lagi dipilih pada jalur berikutnya.
Dengan tingginya jumlah peminat dan terbatasnya daya tampung yang tersedia, masyarakat diimbau untuk memahami setiap tahapan SPMB secara cermat agar tidak salah menafsirkan fungsi PCMB maupun mekanisme seleksi yang berlaku.






