Tak Mampu Sewa Rumah, Hampir 2 Taun Tinggal di Belakang Pos Ronda, Atek Kusmayadi Bertahan di Ruang 2×2 Meter 

Berita14 Dilihat

CIANJUR — Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang mulai menurun, Atek Kusmayadi (59), warga Kampung Bobojong, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, terpaksa menjalani hidup seorang diri di bangunan sederhana berukuran sekitar 2×2 meter di belakang pos ronda.

Selama hampir dua tahun, ruang sempit tersebut menjadi tempat Atek berteduh sekaligus beristirahat. Bangunannya jauh dari kata layak huni. Bagian depan dibiarkan terbuka, sementara dindingnya hanya dilapisi lembaran bekas baliho.

Di dalam ruangan tersebut, hanya terlihat tikar lusuh sebagai alas tidur serta sejumlah piring dan gelas yang diletakkan seadanya. Tidak banyak barang yang menunjukkan bahwa tempat itu telah menjadi hunian Atek selama bertahun-tahun.

Atek mengaku memilih bertahan di tempat tersebut karena tidak mampu menyewa rumah. Ia juga enggan menumpang kepada keluarga lantaran tidak ingin menambah beban mereka.

“Saya sudah hampir dua tahun tinggal di belakang pos ronda. Alhamdulillah, ada warga yang memberikan lahan untuk sementara waktu sebagai tempat saya berteduh,” ujar Atek, Rabu (23/9/2026).

Di usia yang tak lagi muda, kondisi fisiknya juga mulai terbatas. Ia mengaku kerap sakit dan tidak lagi mampu melakukan pekerjaan berat seperti sebelumnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Atek hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Penghasilannya tidak menentu sehingga kebutuhan makan dan keperluan sehari-hari harus disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh.

Kondisi tersebut membuat kehidupan Atek berjalan tanpa kepastian. Ketika tidak mendapatkan pekerjaan, ia harus bertahan dengan kondisi yang ada di tempat tinggalnya yang sangat sederhana.

Meski demikian, Atek tetap berusaha menjalani kehidupannya secara mandiri. Ruang kecil di belakang pos ronda itu menjadi tempatnya bertahan, sekaligus gambaran nyata bagaimana keterbatasan ekonomi dapat memaksa seseorang hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Kisah Atek juga menunjukkan pentingnya perhatian terhadap warga lanjut usia yang hidup seorang diri, memiliki keterbatasan fisik, dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Dukungan dari lingkungan sekitar maupun pemerintah diharapkan dapat membantu memastikan kebutuhan dasar warga dalam kondisi rentan tetap terpenuhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *