Cianjur Dikepung Tujuh Jalur Sesar Aktif, BPBD Ingatkan Warga Tak Panik Hadapi Ancaman Gempa 

Berita13 Dilihat

CIANJUR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi. Imbauan ini dikeluarkan mengingat wilayah Cianjur dikepung sejumlah jalur sesar aktif berpotensi memicu aktivitas kegempaan, di antaranya Sesar Nyalindung-Cibeber, Cugenang, Cimandiri, Rajamandala, Padalarang, Cirata, hingga Sesar Lembang.

​Sesar Nyalindung Cibeber yang memiliki panjang sekitar 30 kilometer merupakan bagian dari segmen Sesar Cimandiri sepanjang 70 kilometer. Potensi ancaman dari jalur-jalur ini patut diwaspadai, mengingat Sesar Cugenang sebelumnya pernah memicu gempa bumi bermagnitudo besar pada 21 November 2022 yang merusak infrastruktur dan menelan banyak korban jiwa.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, membenarkan adanya laporan aktivitas kegempaan terbaru di wilayah Cibeber yang diterima melalui layanan call center. Namun, ia memastikan dampaknya tergolong minim.

“Yang masuk ke kami, alhamdulillah aman. Tidak ada rumah warga yang mengalami kerusakan berat. Tetapi ada laporan dari Desa Babakankaret, ada empat rumah yang mengalami keretakan,” ujar Samudra, Selasa (15/9/2026).

Menurut Samudra, keretakan tersebut bersifat tipis dan terjadi pada bangunan tua tanpa memengaruhi struktur utama. Rumah-rumah tersebut dipastikan masih kokoh dan aman dihuni. Meski demikian, personel Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD tetap disiagakan setiap hari untuk memantau potensi bencana, baik gempa bumi maupun kebakaran lahan di musim kemarau.

Guna menekan risiko, BPBD Cianjur menggencarkan edukasi keselamatan mandiri saat guncangan terjadi. “Intinya ketika terjadi gempa jangan panik, tetap tenang. Ketika keluar dari rumah, lihat situasi dan kondisi. Terutama menjauh dari tiang listrik dan pohon-pohon. Kalau memungkinkan, cari tanah yang lapang,” tambah Samudra.

Mitigasi Bangunan Tahan Gempa

Menanggapi ancaman kegempaan di Cianjur, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa risiko bahaya terbesar umumnya bukan berasal dari guncangan tanah itu sendiri, melainkan dari struktur bangunan yang runtuh akibat tidak memenuhi standar ketahanan gempa.

Daryono soroti masih banyaknya hunian warga yang menggunakan material berat seperti batako, tetapi tidak dilengkapi rangka besi, tulangan, dan kolom penopang yang memadai. Kondisi ini membuat bangunan rawan ambruk, terutama jika dihantam guncangan utama maupun gempa susulan.

“Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara presisi kapan dan di mana akan terjadi,” tegas Daryono. Menurutnya, tiap sesar memiliki mekanisme dan akumulasi tegangan yang berbeda, sehingga narasi bahwa gempa di satu wilayah otomatis merambat ke wilayah lain adalah mitos.

Daryono mendorong Indonesia memperkuat mitigasi struktural dengan menerapkan regulasi ketat pada konstruksi bangunan, sebagaimana yang dilakukan oleh Jepang dan Amerika Serikat. Bangunan fleksibel yang dirancang sesuai kaidah teknik sipil jauh lebih efektif menyelamatkan nyawa dibandingkan berfokus pada prediksi kejadian.

Ia juga mengimbau warga Cianjur untuk hanya merujuk pada informasi resmi BMKG atau instansi berwenang demi menghindari informasi palsu (hoax) di media sosial yang memicu kepanikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *